Senin, 14 Februari 2011

Bukan Tentang Valentine


Untuk pria nomor satu di hatiku, tak peduli engkau nomor berapa di dunia, tapi bagiku, engkaulah yang menjadi juara. Selamat milad… Semoga Allah menjaga-Mu dalam kelapangan kubur, menerangimu dengan cahaya, memperlihatkan tempat kembali yang baik di setiap pagi dan petang sehingga engkau bisa tenteram dalam tidur yang panjang sampai nanti tiba akhir zaman.
Bukan lagi cokelat yang bisa hamba berikan pada beliau, Rabb… maka, jadikanlah hamba umat-Mu yang shalehah agar amal baik hamba mengalir untuk beliau sebagai tanda bakti hamba. Banyak yang sudah beliau berikan pada hamba tanpa pamrih, tapi hamba tak sempat memberikan apapun untuk beliau walaupun hanya selembar kain sarung untuk beliau shalat. Maka dari itu, izinkan hamba untuk bisa beramal banyak dengan harta dan jiwa hamba agar beliau gembira.
Dalam sekian banyak episode kehidupan, terkadang hamba menangis karena rindu. Sungguh, hamba tak bermaksud meratap ataupun tak ikhlas untuk kehilangan. Hamba bermohon, jangan biarkan beliau bersedih ataupun terbebani dengan air mata hamba.
Jika hamba sedang sangat rindu, terkadang hamba meminta mamah untuk bercerita tentang bagaimana kasih beliau sewaktu hamba kecil dulu. Terbayang bagaimana beliau terbangun tengah malam untuk membuatkan susu ketika hamba menangis, lalu tiba-tiba hamba melemparkan botol dot yang berisi susu itu hanya karena tak suka karet dot yang baru. Dengan sabar, beliau menjahit karet dot lama yang robek begitu lebar agar hamba berhenti menangis dan mau minum susu. Apaaa… kangen :’(
Rabb, terkadang hamba berpikir, apakah beliau meninggalkan hamba dalam keadaan yakin bahwa hamba sudah cukup dewasa untuk memutuskan tentang hidup dan kehidupan seperti apa yang ingin hamba jalani? Hamba tak berani memastikan diri untuk menjawab benar ataukah salah tentang hal itu. Nyatanya, hamba masih sering kehilangan arah.
Selama ini, beliau yang paling mempercayai hamba sekaligus mengkhawatirkan diri hamba. Tapi, lewat sebuah nama, beliau sudah memberi bekal do’a yang cukup. Rahmi Wulandiani. Mungkin beliau berharap, akan ada banyak orang yang mengasihi hamba atau harapan agar hamba tumbuh menjadi orang yang penuh kasih. Semoga saja begitu, agar dimana pun hamba berada, selalu ada cinta sahabat yang banyak untuk hamba. Kalaupun sekali waktu hamba harus tersakiti sehingga harus membenci, jadikan perasaan benci itu datang sewajarnya, Rabb… karena terkadang, tak semua hal yang menyakitkan bisa hamba maafkan.
Rabb, perintahkanlah malaikat penjaga kubur untuk berlaku lembut pada ayah hamba. Mamah selalu bilang, beliau sosok yang keras. Tapi, jika kami saling diam karena tak sepaham tentang sesuatu hal, tak pernah sekali pun  hamba kalah. Selalu beliau yang memulai untuk mengajak berbaikan. Ternyata hamba lebih batu dari beliau. Apakah hamba harus berbangga karena itu? Ingin sekali rasanya hamba membalikkan waktu dan mau sekali saja mengalah untuk membuat beliau menjadi ‘pemenang’ dalam hal ini.
Rabb, sudah hampir 8 tahun hamba kehilangan sosok beliau di setiap sudut rumah. Namun, Engkau tak bisa membuatnya hilang dalam ruang hati hamba. Senyumnya, marahnya, cara dia duduk, berdiri, berjalan, berkata, semua, semua, semua, semua… semua tentang beliau ketika menjadi suami, ayah, dan guru di rumah.
Rabb, hamba tahu, sampai kapanpun hamba tak akan bisa mengungguli beliau dalam kepintaran, kecerdasan berpikir, keteguhan untuk meraih mimpi, berkompromi dengan lawan dan kawan, serta mengemas diri menjadi pribadi menyenangkan. Beliau tak sempat mengajari hamba semua hal itu. Tapi tolong katakan, ada satu hal yang selalu beliau tunjukkan yang lebih dari cukup untuk membuat hamba berkata hamba akan selalu bisa. “Semangat pembelajar yang tak kenal batas usia”. Itu warisan berharga dari beliau.
Apa, hidupmu adalah hadiah bagi Ananda. Allah menitipkan kasih sayang-Nya yang begitu besar lewat tanganmu untuk Ananda. Saat tanganmu diambil kembali oleh-Nya, Ananda tidak merasa khawatir. Ananda berpikir, kini Allah-lah yang menjaga Ananda lewat kuasa tangan-Nya. Suatu saat, mungkin akan ada tangan lain yang akan Ia pilih untuk kembali Ia titipi seperti dulu Ia memilihmu. Seseorang yang dekat dari sisi-Nya. Semoga sebaik engkau.
Apa, Ananda tak akan pernah lupa. Tanggal 14 Februari bukanlah tentang Valentine. Tanggal itu adalah miladmu…. Peluk hangat dari Ananda. Semoga hujan malam ini tidak membuatmu merasa sepi. Ada senyum aku, ada cinta mamah :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar