Suatu hari saya bercermin, tapi bukan untuk mempercantik diri. Saya sedang ingin mempercantik hati. Saya yakin, hati adalah teman yang paling terpercaya. Jika sedang sedih ataupun gundah, saya sering mengajaknya berbincang. Ya, saya sedang berusaha keras untuk menjadi sahabat yang baik bagi diri saya sendiri. Saat itu saya meminta sisi terbaik dari diri saya untuk menasehati saya agar berprasangka baik terhadap ujian Allah. Dan, inilah nasehat yang mampu diberikan hati ketika ia saya ajak untuk sedikit bijaksana.
“Katakan, apa yang membuat pohon begitu kokoh dan kuat?” hati saya bertanya.
“Pupuk.” Saya jawab.
“Adakah pupuk yang terbuat dari emas atau wewangian?” hati kembali bertanya.
“Tidak.” Singkat saya berkata.
“Kebanyakan, ujian yang diberikan Allah itu kotor dan berbau layaknya pupuk. Jadilah seperti pohon yang memilih jalan sabar dan ikhlas untuk menerima pupuk itu; percaya bahwa suatu masa, pupuk itulah yang akan membuatnya tumbuh tinggi, besar, dan kokoh hingga ia tak akan roboh dengan begitu mudahnya ketika menghadapi terpaan angin dikemudian hari.”
“Ketika diuji, yakinilah ujian itu sebagai pupuk yang akan membuat kita menjadi manusia yang jauh lebih baik. Saat Allah hendak meninggikan derajat seseorang, maka Ia akan mengujinya dengan beban yang sanggup dipikulnya untuk melihat seberapa istimewakah mahluk-Nya. Insya Allah, dengan bismillah, semua yang pahit akan berujung manis, semua yang sulit akan berakhir mudah, semua tangisan akan berganti dengan senyuman. Allah akan selalu menemani selama kita meyakini.”
“Terkadang, Ia menjauhkan kita dari apa yang sangat kita inginkan; memberikan apa yang bukan kita harapkan. Ketika itu terjadi, anggaplah hatimu pernah berdo’a dengan do’a seperti ini: “Rabb, jauhkan hamba dari segala sesuatu yang membuat hamba jauh dari-Mu dan dekatkan hamba dengan segala sesuatu yang mendekatkan hamba pada-Mu.” Imani do’a itu sebagai jawaban atas semua harapan yang terhempaskan. Akan ada banyak pintu terbuka ketika kita berlapang.”
Memiliki kalimat-kalimat itu di dalam kepala, membuat saya merasa begitu berkawan dengan diri saya sendiri. Dekat.
“Berbaiklah pada diri sendiri seperti Tuhan selalu berbuat baik padamu; menjadi tempatmu berlari meski sudah kau khianati berkali-kali. Kau harus selalu menjadi yang pertama bagi dirimu sendiri ketika dunia tak menghiraukanmu ataupun ketika dunia membukakan banyak pintu untukmu.” :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar